The Legend

November 25, 2010 at 5:25 am Leave a comment

Kemaren baru aja ketemu Bocun, ngobrol ngalor ngidul sampe jam 2. Di awal malam pembicaraan masih normal, kita ngebahas satu anak ajaib yang dalam sebulan pasti aja ada barangnya yang ilang. Mulai dari dompet, isi dompet, yang dibeli dari isi dompet, pasti ada yang ilang, PASTI, camkan itu baik-baik!. PASTI!!. Dan terakhir hape nya yang ilang. Tiga hari terakhir dia susah banget dihubungin, sampe-sampe puluhan mahasiswa, korban ‘diutangi’ penjahat satu ini, ngedatengin rektorat cuma buat nanya keberadaan tu anak.
Singkat cerita tu anak siangnya beli hape baru sony ericson, android, dan jadilah kita malem itu ngebahas hape barunya. Mulai dari fitur android di hape, perang pasar i-phone vs blackberry vs android, aplikasi2 yang bakal dibikin kedepannya, dan tidak lupa membicarakan bangkitnya Gorgom dan anak buahnya dari dunia krisis.
Malam semakin larut dan sesuai rumus relativitas Einstone, malam+4 pemuda sakit jiwa = disaster. Maka dimulailah kegilaan malam itu.


Entah bagaimana dan siapa yang memulai, but we start talking about shit. Sumpah gw ga tau apa-apa dan ga mulai, tapi entah gimana selalu ada magnet kuat yang menarik hasrat terdalam dari jiwa kosong siapapun yang ada di deket gw buat ngobrolin yang satu ini.
Awalnya cuma cerita biasa (at least menurut gw yang expert di bidang pertaian). Tentang yang beol di celana lah, beol di jalan lah, beol di depan WC lah, dan beol-beol lainnya. Tapi ada satu cerita dari bocun malem itu yang menyentuh hati kecil gw. Cerita yang ngerubah seluruh persepsi gw tentang cerita tai. This is it!! bisik gw dalem hati. This is the one.. Cerita tai sepanjang masa, cerita tai yang tak luluh karena zaman. Cerita yang akan terus terpatri di sanubari anak bangsa. This is “The Legend”, The Legend of Tai Tale… (Backsound musik The X-Files)

Sinar bulan menerangi Bocun yang cerita malem itu, gw terpana, melongo, menyelam di fantasi terdalam gw. Kedurjanaan dan kekampretan cerita itu sungguh sudah diluar batas kemanusiaan dan kewajaran. Gw bakal coba reka ulang cerita itu, mungkin ga bakal se’bau’ cerita Bocun aslinya, but at least you can get the big picture of this ‘great’ story.

Bocun memulai dengan dehaman halus di tenggorokannya. Menyorotkan sinar senter ke mukanya, menatap satu persatu orang di ruangan, dan memulai cerita itu. Cerita yang terjadi bertahun-tahun yang lalu, ketika Bocun masih berstatus bocah imut lucu di smp..

‘Smp adalah masanya segala sesuatu adalah tabu, dan yang paling tabu diantara yang tertabu dari raja ketabuan diantara tabu-tabu tertabu yang mana tabu itu merupakan tabu banget adalah boker di wc smp. Entah kenapa seakan-akan sebelum masuk ke smp semua anak diculik oleh para alien dari planet zupa-zupa dan dijejali paham sesat ini.
Saya masih ingat pagi itu. Dengan menenteng kertas gambar untuk pelajaran seni rupa saya pergi ke sekolah. Gejolak perut yang menggila pagi itu membuat hati dan pantat saya bergemuruh tak menentu. Pergulatan antara otot lubang pantat dan desakan perut sangat dahsyat selama jam sekolah hari itu. Tapi selalu berakhir seri, kadang menonjol sedikit sampai menyentuh sedikit dari celana dalam putih berenda bunga milik saya, tetapi selalu berhasil disedot kembali. Aktivitas tarik-ulur itu berlangsung sepanjang jam pelajaran.
Seusai sekolah, dengan langkah kaki yang limbung saya mulai berjalan keluar sekolah. Jarak rumah yang jauh membuat saya memeras otak. Ratusan dendrit otak saya paksa bekerja untuk mencari solusi atas tragedi kemanusiaan yang sedang saya alami. Sampai akhirnya berakhir pada satu konklusi, bahwa saya harus pergi ke tempat kerja Ibu yang kebetulan tidak begitu jauh dari sekolah.
Turun dari angkot dorongan itu sudah tak terbendung. Erupsi-erupsi kecil mulai terjadi. Celana mulai basah dan berubah warna, disertai kaki yang hangat karena tetesan lahar kuning yang keluar dari sela-sela celana ketat smp. Dengan ter-engah-engah sambil mengapit kedua kaki saya terus berjalan menuju kantor ibu. Sepanjang jalan yang dilewati terdapat jejak-jejak kuning yang tercerai berai di jalanan.
Sesampainya di tempat kerja ibu semuanya sudah gelap. Dengan pandangan mata yang kabur dan harga diri yang tercabik saya menuju WC di samping kamar penjaga gedung. Menggunakan sisa tenaga yang ada saya dorong pintu WC itu. Terhuyung-huyung dan lemas saya buka celana saya yang sudah penuh dengan endapan benda kuning dan coklat. Saya mulai berjongkok, menutup mata, mengerutkan dahi, menjulurkan lidah, menggerakan kuping, lalu dalam satu hempasan ‘BROOTT BREEETT BROOOTT BREEETT pret..’ semuanya keluar membanjiri kloset dan lantai di sekitarnya.
Merasa lega saya lalu mulai membuka mata, sebersit senyum pilu mengembang. Takdir betul-betul mempermainkan saya hari itu, WC yang saya masuki memang memiliki bak dengan air yang penuh hingga meluap ke pingiran bak, tapi ‘KENAPA GA ADA GAYUNGNYAAAAA..!!!!!’. Senyum yang mengembang sebelumnya kembali berubah menjadi ekspresi horor. Kebingungan dan panik saya tidak bisa berfikir jernih. Dengan harapan segalanya segera berakhir akhirnya saya masukan pantat saya yang belepotan ke dalam bak dan mengucek-nguceknya, Air bak yang tadinya bersih jernih mulai berubah keruh. Dengan air keruh itu juga saya mulai mengucek celana yang penuh tai. Untungnya pada saat itu saya membawa sarung di tas. Keluar dari WC saya melirik terakhir kalinya ke dalam WC. Pemandangan horor yang saya liat hari itu tidak terlupakan, bahkan hingga saat ini masih sangat begitu jelas. Bak dengan air berwarna kecoklatan disertai kloset yang dihiasi taburan-taburan pecahan tai di lantai dan sampingnya. Dan hidangan utama berupa coklat cair di tengah kloset.
Dengan memakai sarung saya langsung berlari ke lantai atas menuju ke ruangan Ibu. Sialnya lagi ketika keluar dari WC si penjaga gedung datang dan masuk ke WC yang baru saja saya pake. ‘EHH SIAHH.. JOROOKK!!’ kata si penjaga gedung sambil menunjuk-nunjukan jarinya ke arah saya. Saya yang panik terus berlari menyusuri tangga gedung dengan memakai sarung. Hingga akhirnya sampai di ruangan ibu.
Di ruangan ibu saya hanya bisa duduk lemas. Menerawang dengan pandangan kosong ke luar jendela. Air mata tiba-tiba mengucur membasahi pipi. Mata merah sebam, dan bibir pucat kering. Hari itu, di WC itu, di tempat itu, saya mati. Jiwa suci putih murni seorang anak smp sudah dikotori oleh kejamnya takdir.
Satu pelajaran berharga yang saya dapat dari tragedi itu. Jangan, JANGAN, JANGAN PERNAH menahan sesuatu yang memang seharusnya tidak boleh ditahan. Kapan pun, dimana pun, jangan pernah ditahan. Atau tragedi serupa bisa terjadi untuk yang kedua kalinya.’

Bocun mengakhiri cerita dengan pandangan berkaca-kaca. Terlihat jelas traumatis yang dialami oleh Bocun karena kejadian itu. Akhirnya malam itu, jam 2 pagi, diakhiri oleh gelak tawa empat pemuda sakit jiwa dan diiringi oleh lemparan botol dan sendal dari kediaman tetangga, ‘Woi sarap!! jam segini masih ribut!!’, kami mengakhiri pembicaraan kami.. (Backsound musik The X-Files)

Advertisements

Entry filed under: The Kacrut Bacot.

Kuwata Keisuke part 2 The Karma Knight Rises

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Bacotan Anyar

Popularitimeter

  • 16,865 hits
November 2010
M T W T F S S
« Jul   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d bloggers like this: