Archive for November, 2009

Drop the Bomb

Ini cerita lama, sekitar 2-3 bulan lalu yang pengen gw tulis tapi ga pernah bisa gara-gara kesibukan TA (Tugas Akhir) gw. TA adalah salah satu bentuk penyiksaan legal formal yang dilakukan setiap kampus kepada para mahasiswanya. Anda dituntut untuk ngebangke di kamar mengerjakan TA yang tiada berakhir. Siang, malam, siang, malam, siang, malam hingga TA tersebut kelar atau hingga anda mati karena konslet otak.
Well kita ga bakalan ngebicarain TA gw yang terkutuk pada kesempatan kali ini, tapi kita akan membahas kejadian horor yang menimpa gw dan mr. Kan beberapa waktu lalu. Mr. Kan adalah teman, dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Dosen design lebih tepatnya, spesialisasi mr.Kan dalam gambar adalah gambar tai (ini bukan hoax, beneran ni orang seneng banget ngegambar tai.). Sering gw bertanya-tanya dalam diri “are you sick or what?”. But that’s what great about him. He have character!. Shitty character..! but that’s fine with me.. I’m a shitty person myself anyway.
Malam itu kita berdua lagi duduk di pos satpam, ngebahas desertasi S2 dia yang judulnya “Kenapa tai ayam disebut tai kotok, dan pengaruhnya terhadap desain kontemporer”. Tapi serius kadang gw juga bertanya-tanya siapa manusia jenius yang menciptakan kalimat “tai kotok” tersebut. Kenapa harus “kotok”? apakah karena sensasi yang dibuat ketika kita mengucapkannya? terasa desiran darah dari jempol kaki ke ujung kepala. Lembut, tapi tegas dan berkelas.
Ketika asik ngobrol ngelewat anak kucing anggora di depan. Aku menatap ke arahnya, dia balik menatap ke arah ku, seakan-akan berkata “miaaww.. what the fuck are you looking at?! miaaww.. sucker..”. Kucing itu begitu lucu. Aku dekati, dia malu-malu kucing (kalo ayam, malu-malu ayam). Aku gendong kucing itu ke pangkuanku dan melanjutkan obrolanku dengan mr.Kan.
Tidak lama berselang mr.Kan bilang “ko bau bau asem gitu ya?”. Gw pikir tadinya gara-gara kita mendebatkan masalah tai sampai merasuk ke otak dan mempengaruhi saraf pembauan kita. Tapi faktanya emang bau. Kita coba cari-cari sumber bau itu. Di bawah sendal, kolong bangku tempat kita duduk, di tempat sekitar kita duduk, tapi hasilnya nihil. Gw telusuri sekali lagi bau asem-asem busuk itu, sampai akhirnya merujuk ke kucing lucu di pangkuan gw yang lagi bergumul mengelap-ngelapkan seluruh tubuhnya ke celana dan baju gw. Malam tak berbulan yang hanya diterangi oleh lampu kuning redup pada saat itu membuat penglihatan gw ga begitu jelas. Ku dekatkan wajahku ke si kucing. Samar-samar aku lihat si kucing, terdiam di pangkuan dengan bulu di sekujur tubuhnya yang basah dan lengket karena sesuatu. Aku colek sedikit benda yang menempel pada bulu si kucing dan ku dekatkan pada hidung. “sniff sniff” aku cium aroma benda itu dan terpaku dengan pandangan kosong.
Gw turunin si kucing dari pangkuan. Berdiri dari tempat duduk. Pamit sama mr.Kan “mr.Kan, saya pamit duluan”. “Loh, baru juga jam segini, mau kemana?”. Dengan wajah datar gw langsung membalikan badan dan mulai berjalan ke rumah.
Sampe di rumah (“drap.. drap..drap”), masuk kamar madi (“ngeek.. bam”), kunci kamar mandi (“ceklek”), menghela nafas (“hhhh….”), melirik baju yang penuh dengan benda kental kecoklatan yang dihadiahi si kucing (“stare.. stare..”), menghela nafas sekali lagi (“hhhh….”), penuhin ember sama air (“byurr.. byurr..”), masukin kepala ke ember penuh air (“brrbbb…”), lalu teriak (“BBRRBKURRCINGGRRBB RRBBSIALAAAAARRNNNNNNRRBB…!!!!!”).
Gw yakin di waktu yang sama si kucing menyeringai dan berkata dalam hatinya “That’s what you got because staring at me, you freaking shit human!!”. Di akhir cerita, lu sebagai pembaca, dan gw sebagai penulis this shitty story cuma bisa bilang.. “WHAT THE…??”

5 comments November 27, 2009


Categories

Bacotan Anyar

Mereka Bersabda

sososibuk on Drop the Bomb
bacotchaoz on Karma Tawa
Ali on Percakapan Legendaris
Ali on Drop the Bomb
bayuhebat on Drop the Bomb

Popularitimeter

Blogroll

 

November 2009
M T W T F S S
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30